![]() |
Ilustrasi lebaran Idul Fitri. [Foto: Freepik] |
ZONAPIRASI, ACEH - Bulan Ramadhan yang penuh berkah telah tiba dipenghujungnya. Umat Islam di seluruh dunia akan menutup bulan suci ini dengan perayaan Idul Fitri, sebuah momen kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Tradisi shalat sunnah Idul Fitri yang dilakukan secara berjamaah, mengenakan pakaian baru, serta saling memaafkan menjadi bagian dari kebahagiaan hari yang fitri ini.
Ucapan “Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya Karim” pun banyak terlihat di berbagai media sebagai ungkapan doa dan kebersamaan.
Shalat sunnah Idul Fitri merupakan ungkapan syukur atas selesainya ibadah puasa Ramadhan, sebagaimana shalat Idul Adha yang menjadi bentuk syukur atas pelaksanaan ibadah haji.
Selain itu, hari ini juga menandai kebahagiaan umat Islam yang berhasil menahan diri dari makan, minum, serta perbuatan yang dapat mengurangi pahala puasa.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap hari raya, Islam melarang umatnya berpuasa pada hari Idul Fitri.
Sejarah dan Asal Usul Hari Raya Idul Fitri
Idul Fitri memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan dua peristiwa penting, yakni kemenangan dalam Perang Badar serta tradisi perayaan kaum Jahiliyah sebelum Islam datang.
Kemenangan dalam Perang Badar
Idul Fitri pertama kali dirayakan pada tahun ke-2 Hijriyah, bertepatan dengan kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar.
Kemenangan ini bukan hanya kemenangan di medan perang, tetapi juga kemenangan spiritual atas hawa nafsu selama berpuasa.
Penggantian Tradisi Jahiliyah
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab Jahiliyah memiliki dua hari raya yang diisi dengan pesta pora, permainan, dan perbuatan sia-sia. Sebagai tertuang dalam hadits berikut:
"Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda, ‘Kaum Jahiliyah memiliki dua hari yang mereka gunakan untuk bermain. Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, beliau bersabda: ‘Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha’" (HR Abu Dawud & an-Nasa’i).
Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah fil Aqaid menyebutkan bahwa dua hari raya Jahiliyah ini dikenal sebagai Nairuz dan Marjaan, yang merupakan tradisi Persia kuno yang diisi dengan mabuk-mabukan dan menari.
Rasulullah SAW mengganti tradisi ini dengan Idul Fitri dan Idul Adha agar umat Islam memiliki perayaan yang lebih bermakna dan sesuai dengan ajaran Islam.
Keutamaan Hari Raya Idul Fitri
Idul Fitri bukan hanya sekadar hari kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga momen yang penuh berkah, di mana Allah SWT memberikan ampunan kepada umat-Nya. Rasulullah SAW bersabda:
"Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Ketika umat Islam berpuasa selama Ramadhan dan mereka keluar untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, Allah SWT berfirman: ‘Wahai Malaikat-Ku, setiap pekerja menantikan upahnya, dan hamba-Ku yang telah berpuasa serta melaksanakan shalat Idul Fitri juga mengharapkan pahala mereka. Saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka.’"
Esensi Sejati dari Hari Raya Idul Fitri
Syekh Sulaiman bin Muhammad bin Umar al-Bujairomi dalam kitabnya Hasiyah al-Bujairami alal Khatib menjelaskan bahwa hakikat Idul Fitri bukan terletak pada pakaian baru atau kemewahan, tetapi pada peningkatan ketaatan kepada Allah SWT. Beliau berkata:
"Idul Fitri bukanlah bagi mereka yang hanya mengenakan pakaian baru, tetapi bagi mereka yang bertambah ketaatannya. Idul Fitri bukanlah bagi mereka yang memperindah penampilan, tetapi bagi mereka yang diampuni dosa-dosanya."
Namun demikian, mengenakan pakaian baru pada hari raya tetap dianjurkan sebagai simbol kebersihan hati dan syiar Islam, asalkan diiringi dengan ibadah yang lebih baik.
(uwa/mia)